Langsung ke konten utama

Postingan

Ada Kekuatan Doa di Sudut Matahari

Dear memoers,  Terima kasih sudah setia.  Setia menunggu tulisan berikutnya dalam web ini.  Tapi juga maaf.  Maaf sudah menunggu sekian lamanya.  Well, beberapa bulan terakhir aku perlu waktu untuk fokus pada pekerjaanku yang memang perlu perhatian lebih.   Ada masa dimana kamu perlu memperhatikan nasih orang banyak yang bergantung pada sebuah jembatan untuk menyebrangi suatu tempat dan saat itu kamu jadi jembatannya.  Bahkan untuk berpindah 1cm saja kamu ga mampu. Hihi  But God is always Good in His way dan aku baik-baik saja. Praise the Lord.  Mungkin orang kira aku hebat dan sangat terberkati karena masih dalam keadaan baik-baik saja saat menjadi jembatan yang merupakan tempat orang untuk lalu lalang bahkan ada yang dengan kasar menginjak jembatan.  Padahal, kata yang pertama itu trully wrong karena yang hebat bukan aku melainkan Bapaku yang hebat, sedangkan kata kedua aku sangat terberkati itu bener ...

Melukis dari Sudut Ruang Berbintang

April Gerilya

Ya! Aku sedang bergerilya beberapa bulan lalu.  Tapi baru sadar sekarang haha Ternyata apa yang aku lakukan selama ini adalah berperang melawan beberapa hal yang datang dari dalam batin dan sedang aku perangi perlahan dan secara diam-diam. Tapi karena sekarang udah di posting , artinya aku sudah tidak melakukannya lagi karena sudah bukan secara diam-diam.  Tuhan............ Sukacita itu memang datangnya bisa dari mana saja, tapi percuma ketika sukacita menjemput kemudian diri sendiri berdiam dan tidak berpindah sekalipun melangkah setitik saja. Ada yang merasa sedang mengalaminya?  DOR!  Segera sadar ya.. Jangan lama-lama, kasian batinmu. hihi Maksudnya apa? Hmm.. intinya sukacita itu tidak perlu bergantung pada orang lain. Ia hadir sebagai berkat dari Yang Kuasa dan akan melingkupi kita ketika kita mau jujur pada diri sendiri, mengenali diri sendiri dan mencintai diri sendiri. Nah loh..  Hari ini aku spesial mau sapa kalian ...

Kemana Harus Pulang?

Selamat malam..  Izinkan aku menceritakan apa yang aku rasa sepanjang hari ini dan beberapa hari terakhir.. Sesungguhnya ini mungkin jadi perjalanan yang biasa aku lakukan (dulu) beberapa bulan lalu, tapi entah kenapa kali ini aku menanti-nantikan pagi dan hari berganti agar aku cepat bertemu dengan kota kenangan.  Aku sempat merasa asing saat terakhir aku hampiri kota ini, tapi kali ini aku tahu. Sangat tahu! Apa hal yang membuat aku asing waktu itu. Bukan kotanya, tapi diriku yang seperdetiknya sedang beralih dan berganti penuh dengan kenangan yang tak lagi sama seperti sedia kala. Tapi, kotaku tetap sama.  Sejuta renjana yang kupendam terlepaskan kali ini.. Mereka terbang sambil menari di angkasa bersama semesta. Oh, sungguh indahnya.. Pagiku cerah bersama hangatnya sambutan fajar lengkap dengan lembabnya embun menyisiri dedaunan di sini. Begitu pula siang yang rindang, sore yang bebas dari kelam dan malam berbintang! Kota kenangan ternya...

Kuberitahu Kamu Arti Rindu

Well , hari ini Jakarta mulai kembali cerah setelah beberapa minggu terakhir ia menderukan musik alam indah yang basah.. Hujan!  Kata sahabat remajaku disana, semesta sedang menemaniku dan meresponku saat itu.  Haha ada-ada saja!  Semua yang terjadi dan telah aku lalui patut disyukuri. Oh, bukan cuma aku yang patut bersyukur melainkan kita semua yang mendapatkan pengalaman dan pelajaran berharga disetiap nafas yang kita hembuskan.  Siang ini bersama dengan penantianku akan secangkir coffee mint yang punya kenikmatannya sendiri, aku melihat pemandangan sederhana namun bermakna.  Aku belajar dari sebuah pagar rumah di pinggir jalan yang tadi aku lewati sebelum akhirnya menanti secangkir coffee mint ku.  Jadi.. Aku dengar orang-orang bercerita tentang hal ini, bahwa: Ada kalanya ketika sekeras apapun kita berusaha menumbuhkan lumut dengan air hujan untuk menutupi lubang pagar yang dilubangi orang lain, lumut itu tumbuh dan berha...

Firasat

Anugerah ini kuterima begitu saja. Kali pertama bertemu hanya menyisakan kata. Tanpa tanya, hanya perkenalan semata. Katanya kau melihat aku bersahaja. Lantas banyak kisah yang dilalui menghantarkan aku pada sebuah firasat. Aku pikir ini bukan sesuatu yang penting karena tak sedikipun terasa jelas. Tapi firasat menamparku dengan keras dan mengecamku dengan tegas. Dengan segala cara Dia jawab tanya dan doaku, ya melalui firasat. Siapalagi yang kuat jika bukan hati aktornya. Siapalagi yang mengerti jika bukan hati aktrisnya. Siapalagi yang pandai jika bukan hati pemiliknya. Siapalagi yang merintih jika bukan hati pelakunya. Banyak kata yang dulu terucap, tapi tak satupun tersisa. Banyak kisah yang dulu lekat, tapi kemana perginya? Banyak kenangan yang berwarna, tapi semua sirna. Banyak cinta yang diberikan, tapi dibuangnya. Begini rasanya jika pesan nyata tak kunjung sampai pada telinga yang harus mendengarnya. Walau memang tak semua yang datang akan menyampaika...

Malam Ini Hujan Menemani

Jakarta, malam hari.. Ditemani rintik hujan yang seketika semakin ramai dan berderu seolah bernyanyi untuk menghiburku, aku menahan perih karena bibir tak sanggup berkata apa yang hati ingin sampaikan. Rasa yang dilewati belakangan ini seolah dipendam secara paksa dengan segudang tenaga yang dihabiskan untuk memenuhi kewajiban dan tanggung jawab mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sudah lama aku tidak melihat sinar yang aku damba, akhir-akhir ini yang kulihat hanya bulan di tengah angkasa yang gelap seolah menahan entah apa yang ditahan aku pun tak tahu. Jangankan melihat yang lain, bahkan fajar yang senantiasa hadir dikala pagi ku belum siap bertemu banyak rakyat pun kali ini seolah redup bahkan tak lagi nyata seperti sedia kala. Oh tunggu, Aku rasa tak lagi ku temukan fajar yang sama. Mungkin kali ini sudah berbeda. Baik, aku akui saja. Jujur aku merindukan fajar itu. Kemana perginya? Oh, bukan. Bukan itu yang terasa pergi. Bukan fajarnya. Melainkan sinar ...