Langsung ke konten utama

Postingan

Kemana Harus Pulang?

Selamat malam..  Izinkan aku menceritakan apa yang aku rasa sepanjang hari ini dan beberapa hari terakhir.. Sesungguhnya ini mungkin jadi perjalanan yang biasa aku lakukan (dulu) beberapa bulan lalu, tapi entah kenapa kali ini aku menanti-nantikan pagi dan hari berganti agar aku cepat bertemu dengan kota kenangan.  Aku sempat merasa asing saat terakhir aku hampiri kota ini, tapi kali ini aku tahu. Sangat tahu! Apa hal yang membuat aku asing waktu itu. Bukan kotanya, tapi diriku yang seperdetiknya sedang beralih dan berganti penuh dengan kenangan yang tak lagi sama seperti sedia kala. Tapi, kotaku tetap sama.  Sejuta renjana yang kupendam terlepaskan kali ini.. Mereka terbang sambil menari di angkasa bersama semesta. Oh, sungguh indahnya.. Pagiku cerah bersama hangatnya sambutan fajar lengkap dengan lembabnya embun menyisiri dedaunan di sini. Begitu pula siang yang rindang, sore yang bebas dari kelam dan malam berbintang! Kota kenangan ternya...

Kuberitahu Kamu Arti Rindu

Well , hari ini Jakarta mulai kembali cerah setelah beberapa minggu terakhir ia menderukan musik alam indah yang basah.. Hujan!  Kata sahabat remajaku disana, semesta sedang menemaniku dan meresponku saat itu.  Haha ada-ada saja!  Semua yang terjadi dan telah aku lalui patut disyukuri. Oh, bukan cuma aku yang patut bersyukur melainkan kita semua yang mendapatkan pengalaman dan pelajaran berharga disetiap nafas yang kita hembuskan.  Siang ini bersama dengan penantianku akan secangkir coffee mint yang punya kenikmatannya sendiri, aku melihat pemandangan sederhana namun bermakna.  Aku belajar dari sebuah pagar rumah di pinggir jalan yang tadi aku lewati sebelum akhirnya menanti secangkir coffee mint ku.  Jadi.. Aku dengar orang-orang bercerita tentang hal ini, bahwa: Ada kalanya ketika sekeras apapun kita berusaha menumbuhkan lumut dengan air hujan untuk menutupi lubang pagar yang dilubangi orang lain, lumut itu tumbuh dan berha...

Firasat

Anugerah ini kuterima begitu saja. Kali pertama bertemu hanya menyisakan kata. Tanpa tanya, hanya perkenalan semata. Katanya kau melihat aku bersahaja. Lantas banyak kisah yang dilalui menghantarkan aku pada sebuah firasat. Aku pikir ini bukan sesuatu yang penting karena tak sedikipun terasa jelas. Tapi firasat menamparku dengan keras dan mengecamku dengan tegas. Dengan segala cara Dia jawab tanya dan doaku, ya melalui firasat. Siapalagi yang kuat jika bukan hati aktornya. Siapalagi yang mengerti jika bukan hati aktrisnya. Siapalagi yang pandai jika bukan hati pemiliknya. Siapalagi yang merintih jika bukan hati pelakunya. Banyak kata yang dulu terucap, tapi tak satupun tersisa. Banyak kisah yang dulu lekat, tapi kemana perginya? Banyak kenangan yang berwarna, tapi semua sirna. Banyak cinta yang diberikan, tapi dibuangnya. Begini rasanya jika pesan nyata tak kunjung sampai pada telinga yang harus mendengarnya. Walau memang tak semua yang datang akan menyampaika...

Malam Ini Hujan Menemani

Jakarta, malam hari.. Ditemani rintik hujan yang seketika semakin ramai dan berderu seolah bernyanyi untuk menghiburku, aku menahan perih karena bibir tak sanggup berkata apa yang hati ingin sampaikan. Rasa yang dilewati belakangan ini seolah dipendam secara paksa dengan segudang tenaga yang dihabiskan untuk memenuhi kewajiban dan tanggung jawab mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sudah lama aku tidak melihat sinar yang aku damba, akhir-akhir ini yang kulihat hanya bulan di tengah angkasa yang gelap seolah menahan entah apa yang ditahan aku pun tak tahu. Jangankan melihat yang lain, bahkan fajar yang senantiasa hadir dikala pagi ku belum siap bertemu banyak rakyat pun kali ini seolah redup bahkan tak lagi nyata seperti sedia kala. Oh tunggu, Aku rasa tak lagi ku temukan fajar yang sama. Mungkin kali ini sudah berbeda. Baik, aku akui saja. Jujur aku merindukan fajar itu. Kemana perginya? Oh, bukan. Bukan itu yang terasa pergi. Bukan fajarnya. Melainkan sinar ...

Dia berkata..

7 Maret:  This what I'm gonna tell you. I've ever lost my coffee mint, now I need a warm white light so I can see you between my tears. 17 April: Aku belajar satu hal dari penciptaan pasangan. Bahwa tidak ada satu diantara pasangan yang ditakdirkan mengalami keberuntungan. Yang ada adalah sama-sama beruntung karena saling melengkapi diantara kekurangan yang dimiliki. H e h e 7 Juni: Kadang ketika kamu datang dan aku terpaku, bukan berarti aku menolak. Aku hanya takut, terlalu takut jika segala sesuatu yang kita lewati hanya berujung pada perpisahaan yang terlalu berarti. Sulit bagiku untuk kembali melewati segala jenis luka di hati. 27 Juni: Kapan kamu sadar bahwa ukiran ini semakin lama semakin dalam. Aku tak suka. Bukan karena tidak indah, melainkan sebaliknya terlalu indah sampai aku tak siap jika nanti harus direnovasi atau bahkan dimusnahkan secara paksa. Cinta. 17 Juli: Menanyakan kabarmu saja aku takut. Takut jadi bagian yang dapat menyakitimu lebih dalam la...

27 Juni 2018

Kapan kamu sadar bahwa ukiran ini semakin lama semakin dalam. Aku tak suka. Bukan karena tidak indah, melainkan sebaliknya terlalu indah sampai aku tak siap jika nanti harus direnovasi atau bahkan dimusnahkan secara paksa. Cinta.

-Muara-

Hai, memo- ers ! Singkat cerita aku orangnya pelupa jadi suka banget pakai memo sebagai tools yang bantuin aku untuk ingat sesuatu, mulai dari tugas sampai agenda acara termasuk mimpi-mimpiku. Aku ngerasa gak bisa jauh dari memo. Makanya, catatan-catatanku ini aku namakan memocardina..  Hari ini aku mau cerita tentang arti muara buatku, tapi sayangnya aku hanya bisa merasakannya bukan memilikinya. Semoga hal ini gak terjadi sama kalian ya:)   I mean , semoga kalian bisa dapat dua-duanya. Merasakan dan memiliki muara itu.  Betapa indah ketika kalian sudah sampai pada muara yang tepat. Maka, jangan lagi kalian tunda.. Bermuaralah..  Yang kurasa, angin datang melipir sembari berbisik kala itu Telinga mendengar lembut sementara bibir hanya membisu Ia memintaku merasakan setiap langkah di penghujung jalan itu Tapi yang aku tahu, aku hanya mau berterima kasih atas sesuatu Langit cerah dan udara segar, bagiku segalanya tidak lebih dari itu ...