Langsung ke konten utama

Usailah Renjanaku

Seperti sinar mentari nan indah di kala senja,
mengucap salam perpisahan dengan upacara yang indah.
Lengkap dengan udara yang melambai tipis menyilir pelipis,
dan awan sebagai lukisan penuh ketenangan.


Alunan nada di telinga silih berganti terasa sangat harmoni
Tak pernah bosan walau sudah lama kupasang headset ini
Mendengar setiap ketukan yang meyakinkan indahnya senja
Sambil tersenyum lepas, kurasakan kesejukan udara tak bersuara

Dedaunan dari ranting terus melambai senang bersamaku

Dan lukisan penuh ketenangan itu ikut bergerak perlahan
Menuju ke arah angin yang membawanya tanpa merubah estetikanya


Sore itu, aku melihat dan mendengar arti kesejukan hati..
Diawali dengan mengingat kembali 
Bagaimana aku mengenal alunan nada yang silih berganti.
Yang Kuasa tak pernah membiarkan aku bernafas tanpa alunan indah ini.



Bahkan dalam setiap pertemuan panjang dahulu hingga sekarang,
aku selalu bercengkrama dengan yang kalian sebut musik.
Entah bagaimana, ia mampu menyisir segala kegelisahan dihati.
Mengubah ketegangan itu menjadi kenyamanan.

Ya, merubah bibir bergeming menjadi sebuah senyuman.
Dan yang selalu indah ketika menemani kala air mata sedang berlinang.
Sebegitu sederhananya aku mengenal kata tenang.
Melepas segala gundah dan resah yang dirasa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

27 Juni 2018

Kapan kamu sadar bahwa ukiran ini semakin lama semakin dalam. Aku tak suka. Bukan karena tidak indah, melainkan sebaliknya terlalu indah sampai aku tak siap jika nanti harus direnovasi atau bahkan dimusnahkan secara paksa. Cinta.

Kata untuk Tuhanku

Kemari,  Ada kata yang ingin kubukukan dalam ruang tanpa batas jarak dan waktu meskipun banyak dari antaranya yang tidak ingin aku bukukan di sana. Ada beberapa bait kata yang lebih baik tersimpan dan terbuka bagi mereka yang kuizinkan saja.  Kata hari ini adalah kata tentang Tuhan.  Dia baik!  Teramat baik, karena menyelamatkanku dari bahaya yang mencekam kalau aku ingat-ingat sekarang.  Hiiii.....  Serem deh hehe  Gak nyangka aja, ada manusia seperti itu di sekitar lingkungan yang aku kira isinya baik-baik aja.  Tuhan, Dia pelindung yang baik, penjaga Yang Maha, Bapaku yang setia. Bersyukur dan bersyukur..  Mungkin kemarin gelap melingkupi aku terlalu lama sampai aku sulit melihat cahaya.  Tidak ada lagi kata yang ingin ku bukukan, selain Terima kasih Tuhan Yesusku.  :) 

Surat Untuk Oma

Hai Oma!  Apa kabar?  “Siapapun berhak untuk bahagia”. Itu kalimat yang paling aku ingat dan aku rasakan dari orang yang mengatakannya kepadaku. Hai, oma! Aku rindu! Rindu sekali, bahkan berkali-kali. Terlalu banyak kenangan yang gak bisa aku ceritain satu-satu buat ngingetin oma tentang kenangan kita bersama. Yang pasti, semua kenangan kita itu keren banget, oma! Sekarang gak kerasa ya aku sudah sebesar ini, 21 tahun. Usia yang katanya menjadi batas usia ideal bagi perempuan untuk boleh menikah. Dan itu artinya, sudah sekitar 7 tahun lamanya kita gak ketemu ya, oma. Selama kita gak ketemu, aku gak pernah ragu sama ajaran yang sudah oma berikan dan tanamkan ke dalam keluarga. Bahwa keluarga adalah harta yang paling berharga dan satu kalimat pertanyaan yang masih aku ingat sampai sekarang adalah “Kalau oma udah ga ada, nanti siapa ya yang jadi penomor satu di keluarga ini?”. Tik tok, aku gak bisa jawab apa-apa. Waktu itu aku masih remaja SMP yang belum menget...